Aku amati, ternyata stasiun televisi-televisi Indonesia sekarang
sangat banyak yg menayangkan acara-acara yg isinya memberitakan
kehidupan artis. Bahkan satu stasiun ada yang memiliki lebih dari satu
paket acara infotainment tersebut, dengan jadwal tayangan ada yang mendapat
porsi tiga kali seminggu. Istilah kerennya infotainment. Sebut saja,
Hot Gossip, Insert, Cek&Ricek, dan bejibun acara lainnya dg nama yg
bervariasi. Sejak pagi, acara2 ini sudah
muncul di televisi kita. Hampir semua isi acara sejenis itu, isinya
adalah menyingkap kehidupan pribadi para selebritis. Walhasil, pemirsa
akan mengenal betul seluk beluk kehidupan para artis, seolah diajak
masuk ke dalam rumah bahkan kamar tidur para artis. Sepintas acara ini
terkesan menghibur.
Seorang ibu yang kelelahan setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya, mungkin akan terasa terhibur dengan informasi sisi-sisi kehidupan pribadi orang-orang terkenal. Apalagi kemasan acara yang semakin bervariasi ada yang diselingi nyanyi, wawancara langsung dengan artis, daftar hari ulang tahun para selebritis, dll. Namun jika kita cermati lebih jauh, namun intinya sama…NGERUMPI, BERGUNJING.
Seorang ibu yang kelelahan setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya, mungkin akan terasa terhibur dengan informasi sisi-sisi kehidupan pribadi orang-orang terkenal. Apalagi kemasan acara yang semakin bervariasi ada yang diselingi nyanyi, wawancara langsung dengan artis, daftar hari ulang tahun para selebritis, dll. Namun jika kita cermati lebih jauh, namun intinya sama…NGERUMPI, BERGUNJING.
Jika kita amati, dulu orang akan tersinggung jika dikatakan tukang
gosip. Seseorang yang ketahuan sedang menggosip biasanya merasa malu.
Namun, sekarang kesan buruk tentang menggosip mungkin sudah mengalami
pergeseran. Sebagaimana aku sebut di awal, acara-acara informasi
kehidupan para artis atau selebritis yang dikemas dalam bentuk paket
hiburan (infotainment) dengan jelas-jelas menyebut kata gosip sebagi
bagian dari nama acaranya. Bahkan pada salah satu dari acara tersebut
pembawa acaranya menyebut dirinya atau menyapa pemirsannya dengan
istilah “biang gosip”. Herannya, mereka bangga mengaku sebagai tukang
gosip.
Tahun 2005 ini banyak artis yang pisah ranjang dan bercerai.
Peristiwa-peristiwa semacam ini merupakan sasaran empuk bagi penyaji
hiburan semacam ini. Pemirsa disuguhi sajian informasi yang sarat dengan
pergunjingan. Masing-masing pihak merasa benar dan tentu saja
menyalahkan pihak lainnya. Menggosip yang merupakan tindakan buruk, bisa
tidak terasa lagi memiliki konotasi buruk jika terus-menerus
disosialisasikan dengan paket menarik pada televisi. Menggosip akan
terasa sebagai tindakan biasa dan lumrah dilakukan. Menceritakan aib
orang lain menjadi sesuatu yang tanpa beban kita lakukan. Padahal jika
kita cermati makna gosip -yang sama dengan ghibah- barangkali kita akan
merasa ngeri.
Belum lagi berita artis terlibat masalah kriminalitas, ataupun
bersengketa dengan orang lain. Para produser infotainment berusaha
mengemas berita-berita tersebut dg sebaik-baik kemasan utk disuguhkan
dan ‘meracuni’ pikiran kita.
Ini baru televisi, media-media lain juga tidak kalah gencar
‘memasyarakatkan’ ghibah. Koran, radio, bahkan internet. Semuanya
berlomba-lomba untuk menyajikan berita terbaru mengenai gossip yg sedang
hangat…bahkan terkadang mengangkat kembali berita-berita ‘basi’,
sekedar mendapat rating yg tinggi.
Ghibah dalam Islam
Ghibah atau gosip merupakan sesuatu yang dilarang agama. Dalam satu
riwayat dari Abu Hurairah, terdapat percakapan sahabat dengan
Rasululloh. “Apakah ghibah itu?” Tanya seorang sahabat pada
Rasululloh saw. “Ghibah adalah memberitahu kejelekan orang lain!” jawab
Rasul. “Kalau keadaaannya memang benar?” Tanya sahabat lagi. ” Jika
benar itulah ghibah, jika tidak benar itulah dusta!” tegas Rasululloh.
Dalam Al Qur’an (QS 49:12), orang yang suka meng-ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Jabir
bin Abdullah ra. meriwayatkan, “Ketika kami bersama Rasululloh saw
tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai. Maka
Rasul pun bersabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari
orang-orang yang meng-ghibah orang lain”. (HR Ahmad)
Dalam hadits lain dikisahkan bahwa Rasululloh pernah bersabda, “Pada
malam Isra’ mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang
terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka
sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril, `Siapa mereka?’ Jibril menjawab,
`Mereka itu suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan
menjelekkan orang lain, mereka inilah orang-orang yang gemar akan
ghibah!’ (dari Abu Daud berasal dari Anasbin Malik ra).
Begitulah ALLOH mengibaratkan orang yang suka mengghibah dengan
perumpamaan yang sangat buruk untuk menjelaskan kepada manusia, betapa
buruknya tindakan ghibah. Banyak kesempatan bagi ibu-ibu untuk
menggosip. Pada saat berbelanja mengelilingi gerobak tukang sayur,
menyuapi anak di halaman, pada acara arisan atau kumpulan ibu-ibu.
Meng-ghibah kadang mendapat pembenaran dengan dalih, “Ini fakta, untuk
diambil pelajarannya!”. Padahal di balik itu lebih banyak faktor
ghibahnya daripada pelajarannya.
Syaitan dengan mudahnya mempengaruhi kebanyakan hati kita sehingga
mungkin kita tengah menumpuk dosa akibat pergunjingan. Setiap orang
mempunyai harga diri yang harus dihormati. Membuat malu seseorang
adalah perbuatan dosa. “Tiada seseorang yang menutupi cacat seseorang
di dunia, melainkan kelak di hari kiamat ALLOH pasti akanmenutupi
cacatnya” (HR. Muslim). Sosialisasi pergunjingan di televisi
bagaimanapun harus dihindari. Jangan sampai kita merasa tidak berdosa
melakukannya. Bahkan merasa terhibur dengan informasi semacam itu. Kita
mesti berhati-hati. Bahaya ghibah harus senantiasa ditanamkan agar kita
senantiasa sadar akan bahayanya.
Menangkal Ghibah
Penyakit yang satu ini begitu mudahnya terjangkit pada diri
seseorang. Bisa datang melalui televisi, bisa pula melalui kegiatan
arisan, berbagai pertemuan, sekedar obrolan di warung belanjaan, bahkan
melalui pengajian. Untuk menghindarinya juga tak begitu mudah,
mengharuskan kita ekstra hati-hati, caranya?
1. Berbicara Sambil Berfikir
Cobalah untuk berpikir sebelum berbicara, “perlukah saya mengatakan hal
ini?” dan kembangkan menjadi, “apa manfaatnya? Apa mudharatnya?”
Berarti, otak harus senantiasa digunakan, dalam keadaan sesantai apapun.
Seperti Rasululloh saw yang biasanya memberi jeda sesaat untuk berfikir
sebelum menjawab pertanyaan orang.
2. Berbicara Sambil Berdzikir
Berzikir di sini maksudnya selalu menghadirkan ingatan kita kepada ALLOH
swt. Ingatlah betapa buruknya ancaman dan kebencian ALLOH kepada orang
yang ber-ghibah. Bawalah ingatan ini pada saat berbicara dengan siapa
saja, di mana saja dan kapan saja. (jadi, bukan coca cola saja yg punya
slogan ini…xi xi xi…)
3. Tingkatkan Rasa Percaya Diri
Orang yang tidak percaya diri, suka mengikut saja perbuatan orang lain,
sehingga ia mudah terseret perbuatan ghibah temannya. Bahkan ia pun
berpotensi menyebabkan ghibah, karena tak memiliki kebanggaan terhadap
dirinya sendiri sehingga lebih senang memperhatikan, membicarakan dan
menilai orang lain.
4. Buang Penyakit Hati
Kebanyakan ghibah tumbuh karena didasari rasa iri dan benci, juga
ketidakikhlasan menerima kenyataan bahwa orang lain lebih berhasil atau
lebih beruntung daripada kita. Dan kalau dirinya kurang beruntung,
diapun senang menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih
sengsara daripada dirinya.
5. Posisikan Diri
Ketika sedang membicarakan keburukan orang lain, segera bayangkan
bagaimana perasaan kita jika keburukan kita pun dibicarakan orang.
Seperti hadis yang menjanjikan bahwa ALLOH akan menutupi cacat kita
sepanjang kita tidak membuka cacat orang lain. Sebaliknya tak perlu
heran jika ALLOH pun akan membuka cacat kita di depan orang lain jika
kita membuka cacat orang.
6. Hindari, Ingatkan, Diam atau Pergi
Hindarilah segala sesuatu yang mendekatkan kita pada ghibah. Seperti
acara-acara bernuansa ghibah di televisi dan radio. Juga berita-berita
korandan majalah yang membicarakan kejelekan orang. Jika terjebak dalam
situasi ghibah, ingatkanlah mereka akan kesalahannya. Jika tak mampu,
setidaknya Anda diam dan tak menanggapi ghibah tersebut. Atau Anda
memilih hengkang dan `menyelamatkan diri’.










